Terik matahari di ufuk Timur terasa seperti lidah api yang menjilat tengkuk. Aku membungkuk, jemariku yang kasar mencabuti rumput liar di kebun milik Tuan Guru di ujung desa. Setiap tarikan akar yang liat adalah taruhan untuk sesuap nasi. Upah dua puluh ribu rupiah mungkin bagi sebagian orang hanyalah harga sebungkus rokok, namun bagiku, itu adalah jembatan yang menghubungkan hari ini dengan hari esok. Selama Mama dan ketiga adikku bisa melihat kepulan asap di dapur, aku merasa telah memenangkan peperangan kecil melawan takdir.
Kebahagiaanku memang setipis kulit ari, namun sekuat baja. Melihat adik-adikku makan dengan lahap, meski hanya dengan garam dan sedikit minyak kelapa, adalah pemandangan paling mewah yang pernah kulihat. Senyum mereka menyerupai mawar hutan yang mekar setelah hujan; rapuh namun menenangkan. Di mata mereka, aku melihat alasan mengapa jantungku harus terus berdetak, meski tubuh remaja empat belas tahunku sering kali memprotes karena beban yang melampaui kapasitas tulang.
Suatu Minggu, di bawah langit gereja yang tenang, Pastor Paroki berucap dengan suara berat yang bergema, “Cinta adalah pengorbanan. Ia bukan sekadar desiran di dada, melainkan kerelaan memberikan diri sepenuhnya bagi mereka yang terkasih.”
Kalimat itu memahat rongga kepalaku. Aku teringat fragmen film tentang penyaliban Kristus yang pernah kutonton secara sembunyi-sembunyi di jendela rumah tetangga. Aku merenung: jika Kristus yang Tuhan saja rela hancur demi manusia, maka hidupku yang penuh peluh ini mungkin adalah sebuah altar kecil tempat aku belajar mencintai. Namun, dunia tidak selalu selembut khotbah di mimbar.
“Tulangmu masih muda, Nak. Kau seharusnya mengejar layang-layang atau duduk di bangku sekolah, bukan memanggul cangkul,” ujar seorang tetangga suatu kali dengan nada iba yang justru terasa menyengat.
Aku hanya tersenyum getir. Hidup sering kali tidak menyisakan ruang untuk memilih. Antara aku dan kenyataan, ada sebuah bentangan perjanjian yang tak tertulis: sebuah jalur terjal menuju kedewasaan prematur. Perjanjian itu menyiratkan bahwa dalam keadaan sepahit apa pun, aku harus terus melangkah. Tertatih, letih, dan nyaris ambruk adalah bagian dari pesona pemaknaan hidup yang dipaksakan padaku.
Teman-teman sebayaku memiliki peta hidup yang berbeda. Mereka lahir di pelukan keluarga yang utuh, di mana tawa adalah menu utama di meja makan. Sahabatku, misalnya, memiliki rumah yang hangat. Aku sering sengaja bertamu lebih lama di sana hanya untuk menghirup aroma kenyamanan yang tulus, sebuah kemewahan yang tidak bisa dibeli dengan upah buruh harian.
Nasibku tampaknya memang didesain untuk melalang buana di padang gurun penderitaan. “Hidup miskin itu determinasi alam, garis tanganmu sudah begitu,” kata seorang kakak kelas suatu hari dengan nada yang dingin. Kalimat itu lebih tajam dari sembilu. Aku hanya terdiam, meratapi kenyataan tanpa air mata, sebab bagiku, air mata adalah pemborosan energi yang lebih baik kusimpan untuk bekerja.
Kepergian Ayah menjadi lubang hitam yang menyedot seluruh cahaya di rumah kami. Beliau, yang seharusnya menjadi tiang penyangga, pergi tanpa pamit, meninggalkan luka yang menganga panjang dalam sejarah keluarga kami. Sejak saat itu, duniaku menjadi samar. Harapan sering kali luluh lantah ditelan kepahitan. Aku dipaksa menjadi mandiri dalam sekejap. Suka atau tidak, sehat atau sakit, aku harus melaju. Menyerah bukanlah pilihanku; maju adalah satu-satunya senjata yang kupunya. Aku ingin membuktikan pada dunia, dan pada kakak kelasku yang sinis itu bahwa kemiskinan bukanlah soal garis tangan yang mati, melainkan soal keberanian menerjang badai di atas sekoci yang bocor.
Pekerjaanku yang lain adalah mengangkut batu bata di proyek pembangunan rumah. Di antara para pekerja yang berotot kawat, hanya aku yang bertubuh kecil semampai. Mereka sering memandangku dengan takjub sekaligus ngeri melihat bagaimana pundak kecilku memikul beban yang membuat tulang belakangku berderit. Kadang, air mata mengalir begitu saja karena berat yang tak tertanggungkan. Namun, aku belajar mengubah tangis menjadi doa. Doa agar suatu hari nanti, aku bisa berdiri tegak tanpa beban di bahu.
Teman-temanku merayakan ulang tahun dengan kue dan sepeda baru. Aku? Aku bahkan sering lupa kapan tepatnya aku lahir. Bagiku, setiap pagi di mana aku masih bisa bernapas adalah hari ulang tahun yang cukup. Namun, kesibukan mencari receh membuatku mengabaikan hal paling mendasar: kesehatan. Kopi pahit di perut kosong adalah sarapanku setiap pagi. Aku memberikan bagian makananku untuk adik-adikku karena mereka sedang tumbuh. Aku lebih memilih maag yang melilit daripada melihat mata adikku meredup karena lapar.
Minggu pagi, setelah Ekaristi, aku berubah peran menjadi tukang ojek dadakan dengan sepeda motor tua peninggalan Ayah yang sering batuk-batuk mesinnya. Meski belum cukup umur, aku nekat. Di kotaku, hari Minggu adalah hari “gencatan senjata” bagi polisi lalu lintas karena semua orang fokus beribadah. Itulah celahku mencari uang tambahan. Di atas motor itu, aku membayangkan diriku sebagai seorang “ayah” yang sedang menjemput masa depan untuk adik-adikku.
Namun, alam memiliki caranya sendiri untuk menguji batas kesabaran manusia.
Suatu malam, langit tiba-tiba berubah muram. Hujan turun dengan intensitas yang mengerikan, seolah-olah seluruh air di samudera tumpah ke atas atap bambu rumah kami yang sudah rapuh. Petir menyambar seperti amukan naga di langit, dan guntur menggelegar menghancurkan keheningan. Air mulai merembes masuk tanpa ampun. Atap kami yang bolong di sana-sini tak kuasa menahan debit air.
“Mama… dingin,” rintih adik terkecilku.
Tempat tidur kami segera berubah menjadi kolam. Bantal-bantal lusuh terapung. Mama, yang memang sedang didera batuk kronis, hanya bisa memeluk ketiga adikku erat-erat. Mereka semua menggigil, bibir mereka membiru. Di saat orang lain menjadikan suara hujan sebagai simfoni pengantar tidur, bagi kami, hujan adalah teror yang nyata.
“Tuhan, kapan penderitaan ini berakhir?” bisikku lirih di sudut ruangan yang masih sedikit kering.
Aku ingin menangis, tetapi aku tahu jika aku runtuh, maka runtuhlah seluruh pertahanan keluarga ini. Aku menatap wajah Mama dan adik-adikku; sakitnya lebih dalam dari luka sayatan benda tajam. Aku merasa gagal. Aku bukan pahlawan super, aku hanya remaja yang terpojok oleh takdir. Apakah benar kata orang, bahwa garis tanganku memang sudah digoreskan untuk kalah?
Malam itu menjadi malam gelap jiwa. Di tengah guyuran air dan kedinginan yang menggigit, aku hanya bisa berbisik, “Tuhan, atur saja. Aku sudah lelah.” Air mataku akhirnya jatuh, menyatu dengan air hujan yang membanjiri lantai tanah kami.
Pagi harinya, rumah kami tampak seperti kapal yang karam di tengah daratan. Barang-barang berserakan, lumpur masuk ke setiap celah. Mama masih duduk memeluk adik-adikku dengan mata yang menghitam karena kurang tidur. Wajah mereka pucat pasi. Aku tidak sanggup menatap mereka lebih lama. Aku keluar rumah, berdiri di depan pintu yang miring, dan dalam kemarahan yang memuncak, aku sempat mengutuk Ayah, mengutuk kemiskinan, dan bahkan mempertanyakan keberadaan Tuhan.
“Di mana Engkau? Jika Engkau benar-benar ada, tunjukkanlah wajah-Mu sekarang!” teriakku dalam batin.
Saat aku sedang menyeret lumpur keluar rumah, beberapa tetangga lewat. Alih-alih bantuan, yang kuterima adalah tatapan sinis. “Kalau mau hidup layak, kerjalah lebih keras. Kasihan benar hidupmu,” celetuk salah seorang dari mereka sambil berlalu.
Kata-kata itu seperti garam yang ditaburkan di atas luka terbuka. Aku teringat kembali pada Kristus yang dicemooh di kayu salib. Mungkin ini adalah bagian dari “via dolorosa” atau jalan salibku sendiri. Dari dalam rumah, Mama yang mendengar cibiran itu hanya berucap lemah, “Cintailah mereka yang memusuhimu, Nak. Berdoalah bagi mereka yang tak mengerti.”
Aku menyeka peluh dan lumpur di wajahku. Aku tertawa kecil, tawa yang lahir dari kepasrahan yang mutlak. “Tidak apa-apa,” gumamku. “Aku lahir tanpa bantal. Aku datang telanjang, dan jika harus pulang sekarang pun, aku akan tetap telanjang.”
Senin sore menjelang malam. Perut kami benar-benar kosong. Aku tidak bisa bekerja karena harus membersihkan sisa banjir dan menjaga Mama yang makin parah sakitnya. Kami tidak punya beras, tidak punya uang sepeser pun. Kami hanya duduk mengelilingi tungku api yang apinya hampir mati, saling berbagi kehangatan tubuh.
Tiba-tiba, terdengar ketukan di pintu.
Aku membukanya dengan ragu. Di hadapanku berdiri empat orang yang sama sekali tidak kukenal. Dua laki-laki dengan karung beras di pundak mereka, dan dua perempuan membawa kantong-kantong berisi susu, roti, dan obat-obatan.
“Kami dari kampung sebelah,” ujar salah satu dari mereka dengan senyum yang paling tulus yang pernah kulihat. “Kami lewat pagi tadi dan melihat rumahmu terendam. Kami merasa ada yang menggerakkan hati kami untuk kembali ke sini membawa sedikit bantuan.”
Lidahku kelu. Air mataku jatuh tanpa bisa kubendung lagi. Aku memeluk salah satu dari mereka, seorang bapak yang aromanya mengingatkanku pada sosok Ayah yang hilang. Mama dan adik-adikku ikut menangis di belakangku. Bukan tangis kesedihan, melainkan tangis syukur yang membasuh seluruh kepahitan malam sebelumnya.
Malam itu, meja kayu kami yang reyot dipenuhi makanan. Malam itu, aku melihat sesuatu yang lebih terang dari cahaya lampu minyak mana pun: aku melihat wajah Tuhan. Ia tidak datang dengan kereta kencana atau petir yang membelah langit. Ia datang melalui langkah kaki orang-orang asing yang tergerak oleh belas kasih.
Aku akhirnya mengerti. Tuhan mungkin membiarkan kita berjuang sampai batas terakhir, sampai kita merasa hampir menyerah. Ia tidak memindahkan badai dari hidup kita, tapi Ia memastikan kita tidak tenggelam. Ia bekerja melalui tangan-tangan manusia yang rela menjadi perpanjangan kasih-Nya.
Sejak malam itu, aku tidak lagi peduli pada garis tangan atau determinasi nasib. Aku belajar satu hal yang paling hakiki tentang cinta: Bahwa tidak ada cinta yang lebih indah selain mencintai tanpa bertanya siapa yang layak dicintai, dan memberi tanpa bertanya apakah akan kembali. Tuhan telah datang di malam yang gelap, bukan untuk menghentikan hujan, tapi untuk memastikan kami tidak kedinginan lagi.
Oleh: Alvianus Tay







