NEKAF MESE ANSAOF MESE KRITIK ATAS SISTEM POLITIK DI OEKUSI

PENDAHULUAN

Pertama, kita harus mengetahui terlebih dahulu tentang arti dari filosofi Nekaf Mese Ansaof Mese. secara etimologis Nekaf Mese berari Sehati, Ansaof Mese berarti Sejiwa. Jadi filosofi Nekaf Mese Ansaof Mese berarti Sehati Sejiwa, dan filosofi ini memiliki makna yang mendalam terkait kehidupan bersama dan hubungan manusia dengan alam serta nilai-nilai spiritual. Filosofi ini mengajarkan kita tentang arti dari persaudaraan yang mendalam sebagai Atoin Meto lebih espesifiknya sebagai masyarakat Oe kusi, saling merangkul meskipun beda dalam berpendapat, miskin atau kaya, berkulit putih atau hitam, berbeda ideologi tentang berpolitik dan lain lainnya. Artinya dari Filosofi Nekaf Mese Ansaof Mese bisa merangkul kita semua yang berbeda dalam segi apapun, menjadi satu yaitu Atoin Meto atau masyarakat Oe kusi.

Jika kita membahas tentang Oe kusi segilintir orang belum tahu bahwa Oe kusi di mata konstitusi itu apa. Dalam Konstitusi Republik Demokratik Timor Leste (CRDTL) nomor 4 paragraf pertama mancangkup tentang teritori di Timor Leste sebagai berikut ini O Território da Rapública Democrática de Timor leste compreende a superfice Terrestre, a zona marítima e o espaço aéreo delimitados pelas fornteiras nacionais, que historicamente integram a parte de oriental da ilha de Timor, enclave de Oe cusse Ambeno, a ilha de Ataúro e o ilheu de Jaco. Yang berarti wilayah Republik Demokratik Timor Leste meliputi wilayah daratan, zona maritim, dan wilayah udara yang dibatasi oleh perbatasan nasional yang secara historis merupakan bagian dari Pulau Timor, enklav Oe kusi Ambenu, pulau Atauro, dan Pulau Jako. Dan di CRDTL nomor 5, paragraf ke tiga juga membahas tentang Oe kusi dan Atauro sebagai berikut ini Oe Cusse Ambeno e Ataúro gozam de tratamento administrativo e económinco especial, yang berarti Oe kusi Ambenu dan Atauro menikmati perlakuan administratif dan ekonomi khusus.

Kedua, tentang apa arti dari kata politik dan apa saja sistem yang di pakai di dalamnya menurut para filsus politik. Menurut Aristoteles , politik adalah ilmu dan praktik yang bertujuan untuk mencapai kebaikan bersama bagi masyarakat atau negara, yang dianggap sebagai bentuk komunitas manusia yang paling lengkap dan tinggi. Berarti politik itu adalah sebuah ilmu dan praktik yang bertujuan untuk mencapai kebaikan bersama bukan kebaikan pribadi. Contoh sederhana seorang pemimpin yang memimpin dalam suatu negara harus mementingkan keuntungan atau kebaikan bersama bukan kebaikan pribadi, seperti infrastruktur dalam sebuah bukan hanya di dalam kota saja, akan tetapi di dalam kampung atau di bagian desa-desa juga harus ada pembangunan infrastruktur yang baik, seperti jalan, listrik, air yang bersih dan lain-lainnya. Ada juga pemikiran dari seorang sosiolog yaitu Max Weber yang mengatakan bahwa Politik adalah upayaa untuk mempengaruhi atau mendapatkan kontrol atas pembuatan kebijakan publik dan penggunaan kekuasaan negara. Ia membedakan antara kekuasaan (macht) dan wewenang (legitime authority) yang berdasarkan keyakinan masyarakat.

Akan tetapi, masih ada permasalahan yang sering berganti yang ingin menghilangkan filosofi yang dibangun oleh para nenek moyang kita yaitu Nekaf Mese Ansaof Mese. Masalah yang sering kita hadapi itu adalah sistem politik yang sangat bertentangan dengan filosofi Atoin Meto. Jadi filosofi ini dikaitkan dengan sistem politik di Oe kusi, berarti dalam sebuah sistem politik tidak diperbolehkan melakukan nepotisme dan tidak saling menghormati satu sama lain, sebagai orang atoni atau orang dawan, terlebih lagi sebagai orang Oe kusi. Berikut ini, mari kita melakukan refleksi kritikal dalam sistem politik di Oe kusi, menurut Filosofi Nekaf Mese Ansaof Mese, yang sering Atoin Meto atau masyarakat Oe kusi hadapi di kehidupan sehari-hari. Pokok bahasan utama untuk kita merefleksikan terbagi atas dua point penting yaitu:

 NEPOTISME YANG KUAT
TIDAK ADA RASA HORMAT KEPADA SATU SAMA LAIN

NEPOTISME YANG KUAT.
Thomas Paine (1737-1809) adalah filsuf, aktivis politik, dan penulis pamflet asal Inggris yang kemudian menjadi bagian dari sejarah Amerika Serikat dan Prancis. Ia menyerang fondasi pemerintahan berbasis warisan dan nepotisme sebagai sesuatu yang tidak rasional dan betentangan dengan esensi kemanusiaan yang merdeka dan setara. Ia melihatnya sebagai bentuk korupsi yang merusak tubuh politik dan menjadikan darah serta keturunan sebagai tiket untuk memerintah, bukan karena kemampuan atau integritas.

Jika dikaitkan dengan sistem politik di Oe kusi, terdapat nepotisme yang sangat kuat dan unik, seperti membuka lowongan kerja untuk semua orang, tapi mencari karyawan hanya berdasarkan partai politik yang sama (contohnya jika si pewawancara termasuk di partai politik A, jadi barang siapa yang ikut wawancarawan termasuk juga di partai A, dia akan lulus wawancara meskipun dia tidak ada skil untuk pekerjaan itu). Jadi bisa di katakan bahwa, sistem politik di Oe kusi tidak berdasarkan Nekaf Mese Ansaof Mese untuk mencari karyawan sesuai dengan skil yang ada dan dibutuhkan dalam pembangunan sistem politik dan infrastruktur yang diharapkan oleh masyarakat Atoin Meto atau Oe kusi itu sendiri, akan tetapi mencari karyawan berdasarkan partai politik A atau partai politik B. Seperti pengalaman yang telah dialami oleh masyarakat Atoin Meto atau Oe kusi alami sendiri, pada saat partai A mendapatkan jabatan dan orang-orangnya yang akan mendapatkan kursi jabatan meskipun skill mereka sangatlah minim, begitupula dengan partai B, jika mereka yang mendapatkan jabatan jadi karyawan yang telah di rekrut oleh partai A akan di pecat atau diberhentikan dan mereka akan memanggil orang-orang mereka yang termasuk dalam partai B.

Aristoteles juga menekankan bahwa pentingnya keadilan dan kesesuaian dalam pemerintahan serta pengelolaan organisasi. Ia mengkritik praktik yang memberikan keuntungan kepada keluarga atau teman dekat tampa mempertimbangkan kapasitas mereka, karena hal itu dapat merusak stabilitas dan keadilan sistem. Jika semua masyarakat Atoin Meto atau Oe kusi mempraktikan filosofi Nekaf Mese Ansaof Mese dengan benar maka nepotisme yang sering terjadi di tanah Oe kusi ini akan hilang, tapi bukan sekejap mata, akan tetapi dalam waktu yang tidak begitu lama nepotisme ini akan menghilang dengan sendirinya.

TIDAK ADA RASA HORMAT KEPADA SATU SAMA LAIN.
Immanuel Kant adalah filsuf dari jerman, lebih tepatnya berasal dari kerajaan Prusia pada masanya. Ia lahir pada 22 April 1724 di Kӧnigsberg (sekarang Kaliningrad, Rusia) dan wafat di kota yang sama pada 12 februari 1804. Dalam pemikirannya tentang etika dan politik, ia mengajarkan bahwa setiap orang harus diperlakukan sebagai tujuan pada dirinya sendiri, bukan hanya sarana. Prinsip ini mengimplikasikan rasa hormat terhadap martabat dan hak-hak setiap individu dalam konteks politik, termasuk dalam proses pengambilan Keputusan dan interaksi antar warga negara maupun antar pemimpin. Dalam hal ini bisa dikatakan, apabila para pejabat besar tidak saling menghormati satu sama lain, itu akan menjadi suatu pelajaran bagi masyarakatnya untuk tidak saling menghormati satu sama lain. Contoh sederhana, pada waktu kampanye politik, para ketua saling menyindir dan bicara yang tidak-tidak tentang partai lain, itu sudah menjadi sebuah hasutan psikologis bagi mereka yang medengarkan omongan itu.

Jika hasutan psikis itu sudah tumbuh di dalam pikiran para masyarakat, mereka akan menjadi musuh dalam lingkungan mereka sendiri. Ada sebuah fakta, pada tahun yang lalu, terjadinya tragedi pembakaran satu rumah di kabupaten Nitibe, dikarenakan partai politik A yang si pelaku dukung kalah dalam pemilu pada saat itu. Dalam hal ini bukan konsekuensi dari hasutan psikoligis, akan tetapi terjadi karena fanatisme politikal. Karena terlalu fanatik terhadap partai tersebut, dia akan rela lakukan segalanya semi partai yang didukungnya kalah dalam pemilu itu.

Immanuel Kant dalam pemikirannya, ia mengkiritik sikap fanatik yang mengedepankan keyakinan tampa pertimbangan rasional. Ia menekankan pentingnya berpikir mandiri dan tidak terpengaruh oleh emosi atau keyakinan yang ekstrem dalam urusan politik, termasuk dalam dukungan terhadap partai politik tertentu. Dengan semua kita bisa ketahui bahwa dari fanatisme jugi bisa menghilangkan filosofi Nekaf Mese Ansaof Mese dalam kehidupan sehari-hari kita sebagai masyarakat Atoin Meto atau Oe kusi.
Dari dua pokok bahasan ini, terbagi lagi pada dua bagian yaitu Politik Partai dan Politik Identitas. Dan berikut ini kita akan memperdalam tentang dua bagian ini.

• Politik Partai


Politik Partai adalah segala aktivitas, strategi dan mekanisme yang dilakukan oleh Partai Politik untuk memperoleh, mempertahankan dan menggunakan kekuasaan dalam pemerintah. Seperti penjelasan yang sudah di jelaskan di dalam pokok bahasan sebelumnya, bahwa dalam politik di sebuah partai akan melakukan apapun supaya mereka tetap ada kekuasaan dalam pemerintah ini. Contoh sederhana yang sudah di jelaskan adalah hasutan psikologis. Dari semua hasutan psikologis itu, dampanknya akan di terima kembali oleh masyarakat. Ada suatu kalimat yang penulis dengar saat pemilu presiden di tahun 2022, kalimat itu menyatakan bahwa Ami mak hemu, imi mak lanu yang berarti kami yang minum, kalian yang mabok. Kalimat ini sangat sederhana namun memiliki makna yang sangat dalam.

Tadi kita sempat mengatakan bahwa dampaknya akan diterima oleh masyarakat, terlebih masyarakat Atoni atau masyarakat Oe kusi, dampaknya adalah masyarakat Oe kusi akan menjadi musuh satu sama lain, dengan kata yang sering dipakai musuh di dalam selimut, yang berarti meskipun setiap hari mereka hidup bersama dalam suatu komunitas, lingkungan akan tetapi mereka saling musuhan karena ada perbedaan dalam ideologi politikal. Dari itu semua akan menghilangkan arti dari Nekaf Mese Ansaof Mese yang telah diwarisi oleh para luhur kita.

• Politik Identitas


Politik Identitas adalah praktik politik yang menggunakan identitas personal atau kelompok (seperti agama, suku, ras, etnis, gender, atau orientasi seksual) sebagai dasar utama dalam berpolitik atau mencari dukungan. Seperti yang sudah dijelaskan di pokok bahasan yang pertama yaitu tentang Nepotisme yang kuat dalam sistem politik. Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa praktik politik yang menggunakan identitas personal atau kelompok. Contoh sederhana rekrut pegawai tidak di dasarkan skill atau keterampilan yang diperlukan dalam pembangun infrastuktur bagi masyarakat Atoni.

Jangan karena punya pendapat yang sama dalam ideologi politik, atau kelompok yang sama dalam satu partai politik mereka saling merekrut satu sama lain, meskupun tidak mempunyai skil yang diperlukan oleh pemerintah dan masyarakat Atoni itu sendiri. Ada sebuah fakta tentang ini semua, yaitu bukan hanya pegawai pemerintah saja yang kerja melalui jalan politik identitas atau biasa di sebut dengan kata yang sangat familiar yaitu nepotisme akan tetapi jalan ini juga berlaku bagi mereka yang ingin bekerja sebagai Cleaning Serves, Sicurity dan lain lainya. Dalam hal ini juga mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi masyarakat itu sendiri, terlebihi bisa memecah belah warisan para luhur Suku Atoni yaitu Nekaf Mese Ansaof Mese

KESIMPULAN DAN SOLUSI

Dari semua refleksi yang sudah kita refleksikan tentang Filosofi Nekaf Mese Ansaof Mese dalam sistem politik di Oe kusi, menyadarkan kita bahwa pentingnya rasa memiliki terhadap pembangunan infrastruktur di tanah kelahiran kita ini. Jika nepotisme dan saling tidak menghormati satu sama lain itu tetap berjalan dan terjadi maka kita akan tetap seperti ini, dan semua konsekuensinya akan diterima oleh generasi yang akan mendatang.

Kita sebagai masyarakat Atoin Meto yang mempunyai budaya yang sangatlah unik dan kita juga mempunyai semangat dalam perpolitikan, lewat semangat salam filosofi Nekaf Mese Ansaof Mese. Jadi walaupun kita sesama atoin meto memiliki beda dalam berpendapat, berbeda dalam bidang perpolitikan, namun jika di antara kita menjadi seorang pemimpin harus ada jiwa kepemimpinan sebagai seorang atoin meto, merangkul semua agar bisa membawa tanah ini ke jalan yang damai. Jadi solusi yang tepat bagi kita masyarakat Atoin Meto atau Oe kusi yaitu mempraktikan filosofi Nekaf Mese Ansaof Mese dalam kehidupan sehari-hari kita, supaya nepotisme dan saling tidak menghormati satu sama lain bisa dihilangkan dan tanah kelahiran kita ini akan menjadi harmonis dan bahagia. Karena nekaf mese ansaof mese ini adalah sebuah warisan dari para leluhur untuk kita, supaya kita bisa hidup dengan damai sejahtera.

DAFTAR PUSTAKA
 DA COSTA, Fransisco, dkk.,Implementasi Nilai Nekaf Mese Ansaof Mese Dalam Dialog Antarbudaya Dan Identitas.,Dalam Metta:Jurnal Ilmu Multidisiplin.,Vol.5.,no. 3.,2023.,DOI: https://doi.org/10.37329/metta.v5i3.4137.
 Constituição da República Demicrática de Timor Leste., no. 4 alinea primeiro e no. 5 alinea terceiro.
 PAINE, Thomas.,Common Sense.,Cambridge University Press., 2011 (First Published 1776).
 ARISTOTELES., Politics.,Translate by Ernest Barker., revised by R.F. Stalley., Oxford University Press., 1995
 KANT, Immanuel.,Metaphysics of Morals., translate by Mary Gregor., Cambridge University Press., 1996.,ISBN:97805266738.

Penulis: Charles Lelo Ximenes
Mahasiswa Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *